Sebuah Kemitraan yang Memungkinkan


Di balik kekuatan besar yang tak terlihat ini—yang memengaruhi kita semua—
sebenarnya hanya ada segelintir perusahaan. Para pendirinya baru-baru ini bahkan
dipuji sebagai pencipta “tokoh tahun 2025”, yaitu para perancang kecerdasan buatan.


Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang penguasaan segelintir pihak
(oligopoli) atas sistem algoritma dan kecerdasan buatan, yang mampu memengaruhi
perilaku manusia secara halus, bahkan menulis ulang sejarah umat manusia—
termasuk sejarah Gereja—sering kali tanpa kita sadari sepenuhnya.

Tantangan kita bukanlah menghentikan inovasi digital, melainkan mengarahkannya
dengan bijaksana dan menyadari bahwa teknologi ini memiliki sisi ganda. Setiap orang
dipanggil untuk bersuara demi membela martabat manusia, agar teknologi ini sungguh
dapat kita terima sebagai sekutu, bukan sebagai ancaman.


Kemitraan ini mungkin terwujud, tetapi harus dibangun di atas tiga pilar utama:
tanggung jawab, kerja sama, dan pendidikan.
Yang pertama adalah tanggung jawab. Bentuknya dapat berbeda-beda sesuai peran
masing-masing: kejujuran, transparansi, keberanian, visi ke depan, kewajiban berbagi
pengetahuan, serta hak untuk mendapatkan informasi. Namun pada akhirnya, tidak
seorang pun dapat menghindar dari tanggung jawab terhadap masa depan yang sedang
kita bangun bersama.


Bagi para pemimpin platform digital, tanggung jawab ini berarti memastikan bahwa
strategi bisnis mereka tidak hanya didorong oleh keuntungan semata, tetapi juga oleh
kepedulian terhadap kesejahteraan bersama—sebagaimana mereka peduli pada masa
depan anak-anak mereka sendiri.
Para perancang dan pengembang model kecerdasan buatan dituntut untuk bersikap
transparan dan bertanggung jawab secara sosial, terutama terkait prinsip perancangan
dan sistem pengawasan algoritma yang mereka buat. Hal ini penting agar para
pengguna dapat mengambil keputusan dengan pemahaman yang cukup.
Tanggung jawab yang sama juga ada pada para pembuat undang-undang dan regulator,
baik di tingkat nasional maupun internasional, yang bertugas menjaga martabat
manusia. Regulasi yang tepat dapat melindungi orang dari keterikatan emosional yang
berlebihan dengan chatbot, serta membatasi penyebaran konten palsu, manipulatif,
atau menyesatkan, sehingga integritas informasi tetap terjaga.


Perusahaan media dan komunikasi pun tidak boleh membiarkan algoritma yang hanya
mengejar perhatian sesaat mengalahkan nilai-nilai profesional mereka dalam mencari
kebenaran. Kepercayaan publik dibangun melalui ketepatan dan transparansi, bukan
sekadar dengan meningkatkan keterlibatan apa pun caranya. Konten yang dihasilkan
atau dimanipulasi oleh kecerdasan buatan harus diberi tanda yang jelas dan dibedakan
dari konten buatan manusia. Hak cipta dan kedaulatan karya para jurnalis serta kreator
konten harus dilindungi. Informasi adalah milik publik. Pelayanan publik yang
bermakna dan membangun harus berlandaskan keterbukaan sumber, pelibatan pihak
terkait, dan standar kualitas yang tinggi.
Kita semua juga dipanggil untuk bekerja sama.

Tidak ada satu sektor pun yang mampu
sendirian menghadapi tantangan mengarahkan inovasi digital dan tata kelola
kecerdasan buatan. Karena itu, perlu dibangun mekanisme perlindungan bersama.
Semua pihak—mulai dari industri teknologi, pembuat kebijakan, pelaku industri kreatif,
dunia akademik, seniman, jurnalis, hingga para pendidik—harus terlibat dalam
membangun kewargaan digital yang sadar dan bertanggung jawab.


Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat penting: meningkatkan kemampuan
berpikir kritis, menilai keandalan sumber informasi, memahami kepentingan di balik pemilihan informasi, serta mengenali mekanisme psikologis yang digunakan.
Pendidikan juga membantu keluarga, komunitas, dan organisasi menyusun pedoman
praktis demi budaya komunikasi yang lebih sehat dan bertanggung jawab.


Karena itu, semakin mendesak untuk memasukkan literasi media, informasi, dan
kecerdasan buatan ke dalam sistem pendidikan di semua jenjang—sebuah langkah
yang sudah mulai diupayakan oleh beberapa lembaga sipil. Sebagai umat Katolik, kita
dapat dan harus berkontribusi agar terutama kaum muda bertumbuh dalam
kemampuan berpikir kritis dan kebebasan batin. Literasi ini juga perlu menjadi bagian
dari pendidikan sepanjang hayat, menjangkau para lansia dan kelompok masyarakat
yang terpinggirkan, yang sering merasa tertinggal dan tak berdaya menghadapi
perubahan teknologi yang cepat.


Literasi media, informasi, dan kecerdasan buatan akan menolong semua orang untuk
tidak memperlakukan sistem ini seolah-olah manusia, melainkan sebagai alat. Literasi
ini juga mendorong kebiasaan memeriksa kembali sumber informasi dari kecerdasan
buatan—yang bisa saja keliru—melindungi privasi dan data pribadi, serta memahami
pengaturan keamanan dan mekanisme pengaduan. Penting untuk belajar
menggunakan kecerdasan buatan secara sadar dan bertanggung jawab, sekaligus
melindungi citra diri, wajah, dan suara agar tidak disalahgunakan untuk penipuan
digital, perundungan siber, atau deepfake yang melanggar privasi dan martabat
manusia.


Sebagaimana revolusi industri dahulu menuntut kemampuan baca-tulis dasar agar
manusia mampu beradaptasi, demikian pula revolusi digital menuntut literasi digital—
bersama dengan pendidikan humaniora dan budaya—agar kita memahami bagaimana
algoritma membentuk persepsi kita tentang realitas, bagaimana bias dalam
kecerdasan buatan bekerja, bagaimana konten tertentu muncul dalam arus informasi
kita, serta bagaimana model ekonomi kecerdasan buatan berkembang dan berubah.
Kita membutuhkan agar wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia. Kita
perlu menjaga anugerah komunikasi sebagai kebenaran terdalam tentang manusia,
dan menjadikannya arah bagi setiap inovasi teknologi.


Dengan menyampaikan refleksi ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua
yang bekerja demi tujuan-tujuan tersebut, dan dengan tulus memberkati mereka yang
mengabdikan diri bagi kesejahteraan bersama melalui media komunikasi.


Vatikan, 24 Januari 2026
Peringatan Santo Fransiskus de Sales
PAUS LEO XIV

[1] “Diciptakan menurut gambar Allah berarti bahwa sejak saat penciptaannya,
manusia telah diberi martabat yang bersifat mulia dan luhur. Allah adalah kasih dan
sumber kasih; Sang Pencipta ilahi juga menanamkan ciri ini pada wajah manusia,
supaya melalui kasih—yang merupakan pantulan kasih ilahi—manusia dapat
mengenali dan menampakkan martabat kodratnya serta keserupaannya dengan Sang
Pencipta.” (bdk. Santo Gregorius dari Nisa, Penciptaan Manusia: PG 44, 137)


Laman: 1 2 3 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *