Saudara-saudari terkasih,
Wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang
unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia.
Sejak dahulu, hal ini sudah dipahami dengan baik. Orang Yunani kuno, misalnya,
mendefinisikan pribadi manusia dengan kata prósōpon yang berarti “wajah”, yaitu
sesuatu yang hadir di hadapan orang lain dan memungkinkan terjadinya hubungan.
Dalam bahasa Latin, kata persona (dari per-sonare) juga mengandung makna suara,
bukan sembarang suara, melainkan suara khas milik seseorang.
Wajah dan suara memiliki nilai yang suci. Keduanya adalah anugerah dari Allah yang
menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, serta memanggil manusia untuk
hidup melalui Sabda-Nya. Sabda ini pertama-tama disampaikan melalui suara para
nabi, lalu menjadi manusia dalam diri Yesus pada waktu yang telah ditentukan. Sabda
Allah—cara Allah menyatakan diri-Nya—dapat kita dengar dan lihat secara nyata (lih.
1Yoh 1:1–3), karena Ia hadir dalam suara dan wajah Yesus, Putra Allah.

Sejak awal penciptaan, Allah menghendaki manusia sebagai lawan bicara-Nya. Seperti
dikatakan Santo Gregorius dari Nisa,[1] Allah meninggalkan pantulan kasih-Nya pada
wajah manusia agar manusia dapat hidup sepenuhnya sebagai manusia melalui kasih.
Karena itu, menjaga wajah dan suara manusia berarti menjaga tanda kasih Allah yang
melekat dan tidak dapat dihapus. Manusia bukanlah makhluk yang hanya terdiri dari
algoritma biokimia yang sudah ditentukan sebelumnya. Setiap orang memiliki
panggilan hidup yang unik dan tidak dapat digantikan, yang tumbuh dalam kehidupan
dan terwujud dalam komunikasi dengan sesama.
Jika wajah dan suara manusia tidak dijaga, teknologi digital dapat mengubah secara
mendasar pilar-pilar penting peradaban manusia yang sering kita anggap biasa saja.
Dengan meniru suara dan wajah manusia, juga meniru kebijaksanaan, pengetahuan,
kesadaran, tanggung jawab, empati, dan persahabatan, sistem yang disebut
kecerdasan buatan tidak hanya mengganggu cara kita menerima informasi, tetapi juga
menyentuh lapisan terdalam komunikasi manusia, yaitu hubungan antarpribadi.
Karena itu, tantangan utama yang kita hadapi bukanlah sekadar masalah teknologi,
melainkan masalah tentang manusia itu sendiri. Menjaga wajah dan suara berarti
menjaga martabat dan jati diri kita. Menerima peluang yang ditawarkan oleh teknologi
digital dan kecerdasan buatan dengan keberanian, keteguhan, dan kebijaksanaan tidak
berarti mengabaikan kelemahan, ketidakjelasan, dan risiko yang menyertainya.


Tinggalkan Balasan