Ribuan umat Katolik Paroki Gereja Santa Maria Bunda Bunda Kristus Wedi dengan suasana yang perlahan berubah dari kehangatan perjamuan menjadi kesunyian yang mencekam.

Suasana meja Altar tanpa dekorasi.

Dalam perayaan misa Kamis Putih tersebut, momen yang paling menyita perhatian adalah prosesi pemindahan Sakramen Mahakudus dan pengosongan Tabernakel. Pintu tempat penyimpanan roti suci itu dibiarkan terbuka lebar dalam keadaan kosong, sebuah simbolisasi kuat akan kepergian Yesus untuk menjalani sengsara-Nya di Taman Getsemani.

Suasana tanpa dekorasi, altar yang dibersihkan, hingga sunyinya lonceng gereja membawa jemaat masuk ke dalam perenungan mendalam mengenai pengosongan diri dan kerelaan hati untuk menderita demi kasih.
Suasana khidmat menyelimuti Gereja Katolik Paroki Santa Maria Bunda Bunda Kristus Wedi saat ribuan umat menghadiri perayaan misa Kamis Putih. Keheningan yang mendalam begitu terasa, terutama saat jemaat menyaksikan momen simbolis pembukaan dan pengosongan Tabernakel yang memancarkan kesan hampa tanpa kehadiran Tubuh Kristus. Ritual ini bukanlah sekadar rutinitas liturgi tahunan, melainkan sebuah undangan nyata bagi setiap umat untuk merenungkan makna pelayanan sejati dan pengorbanan yang tulus, sebagaimana teladan yang diberikan Sang Kristus pada perjamuan terakhir-Nya.

Perarakan Sakramen Mahakudus


Sepanjang ibadah yang berlangsung khidmat tersebut, pesan mengenai “Mandatum” atau perintah baru tentang kasih benar-benar ditekankan melalui tindakan nyata. Bukan sekadar khotbah di mimbar, namun teladan pembasuhan kaki yang dilakukan menjadi pengingat bagi umat bahwa inti dari iman adalah kerendahan hati untuk melayani orang lain tanpa pandang bulu. Pengosongan Tabernakel ini seolah menjadi cermin bagi setiap jemaat untuk turut “mengosongkan” diri dari kesombongan dan ego pribadi. Malam itu, Gereja Wedi tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi menjadi ruang kontemplasi bagi umat untuk bersiap mendampingi Yesus dalam kesunyian malam sebelum memasuki perayaan Jumat Agung yang penuh pengorbanan.

Prosesi pembasuhan kaki pada Perayaan Ekaristi Kamis Putih I.


Puncak emosional dalam ibadah ini juga terlihat saat prosesi pembasuhan kaki, sebuah tindakan simbolis yang menegaskan bahwa pemimpin harus hadir untuk melayani, bukan untuk dilayani. Melalui pesan yang disampaikan dalam perayaan tersebut, umat diingatkan bahwa kasih yang tulus tidak pernah menunggu untuk dihargai, melainkan berani berlutut dan merendahkan diri demi kebaikan sesama. Momen Kamis Putih di Wedi ini menjadi seruan bagi jemaat untuk siap melepaskan ego dan membuka tangan dalam mengampuni, menjadikan pelayanan sebagai gaya hidup yang melampaui sekadar kenangan sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *