Suasana penuh keakraban dan semangat persaudaraan mewarnai pertemuan lintas generasi Tunggal Hati Seminari–Tunggal Hati Maria (THS-THM) yang digelar pada Minggu pagi, 19 Juli 2026, di Gereja Katolik Santo Alfonsus Maria de Liguori, Nandan. Kegiatan yang semula diperkirakan hanya dihadiri sekitar 15–20 peserta ini justru mendapat antusiasme luar biasa dengan kehadiran hingga 58 anggota dari berbagai ranting, antara lain Wedi, Baciro, Semarang, Sanata Dharma, De Britto, Muntilan, Surakarta, hingga Batam.

Foto bersama anggota THS-THM setelah latihan.



THS-THM merupakan organisasi pencak silat Katolik yang bertujuan membentuk pribadi yang semakin militan, setia kepada Kristus, Gereja Katolik Roma, dan orang tua. Selain melatih kemampuan bela diri, setiap anggota juga dibina melalui pendalaman Kitab Suci, doa, serta pembentukan karakter agar mampu menghadirkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Organisasi ini menghidupi semangat Pro Patria et Ecclesia, yakni mengabdi bagi bangsa dan Gereja.

Kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang diikuti seluruh peserta. Seusai misa, para anggota dari berbagai angkatan saling menyapa dan berbagi cerita, mulai dari generasi senior hingga anggota yang baru bergabung. Momen ini menjadi kesempatan untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus mengenang perjalanan panjang THS-THM di berbagai daerah.

Sesi pemanasan sebelum melakukan jurus A,I,S,U,R,T,O.
AISURTO berantai



Memasuki sesi latihan, seluruh peserta melakukan pemanasan bersama sebelum kembali mengingat dan mempraktikkan Jurus AISURTO secara berantai. Jurus ini bukan sekadar rangkaian gerakan bela diri, tetapi juga mengandung doa yang menjadi pegangan hidup anggota THS-THM, yakni: “Allahku telah menjelma dalam diri Yesus Kristus, Penebusku. Jadikan aku sempurna (sanctitas, sanitas, scientia, dan socialitas), dengan selalu bersyukur atas sapta rahmat Roh Kudus dan bertobat bersama-sama, sekarang dan sepanjang hidupku. Itulah obat sejati bagi kehidupanku.”

Salah satu  THM  dari Ranting Wedi yang mendapat giliran untuk memperkenalkan diri.



Setelah sesi latihan, kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan antar ranting. Setiap peserta memperkenalkan diri sekaligus berbagi pengalaman mengenai dinamika organisasi di daerah masing-masing. Berbagai gagasan dan harapan juga disampaikan agar THS-THM di setiap ranting dapat terus berkembang, aktif berkegiatan, dan menjadi sarana pembinaan iman bagi generasi muda Katolik.

Dalam kesempatan tersebut, Armindo Dos Santos, Koordinator Nasional THS-THM, menjelaskan bahwa pertemuan ini juga dilatarbelakangi oleh kondisi beberapa ranting yang mulai mengalami penurunan aktivitas. Ia mengajak seluruh anggota sebagai generasi penerus untuk tetap memegang teguh warisan para pendiri, yaitu Janji Prasetya serta prinsip-prinsip THS-THM sebagai pedoman dalam melanjutkan perjalanan organisasi.

Armindo juga berpesan agar setiap anggota senantiasa rendah hati dan menjadikan THS-THM sebagai wadah pengabdian, bukan untuk kepentingan pribadi. Menurutnya, keberlangsungan sebuah ranting tidak ditentukan oleh banyaknya anggota ataupun predikat sebagai ranting terbaik, melainkan oleh bibit-bibit THS THM yang baik dan kokoh untuk masing masing ranting agar  bisa berkembang lagi di masa mendatang.

Pesan senada disampaikan Romo A.G. Luhur Prihadi, Pr., salah satu Dewan Pendiri dan pemrakarsa THS-THM. Beliau menegaskan bahwa pendidikan dalam THS-THM bertujuan menanamkan nilai-nilai luhur, bukan membentuk pribadi yang merasa paling hebat atau paling unggul. Setiap anggota dibimbing untuk mengolah kehidupan rohaninya, bertumbuh dalam kerendahan hati, serta menghayati nilai-nilai THS-THM dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud kesetiaan kepada Kristus dan Gereja.



Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat ini diharapkan menjadi titik awal bangkitnya kembali dinamika di setiap ranting. Semangat lintas generasi yang terjalin di Nandan diharapkan mampu menginspirasi seluruh anggota untuk terus menghidupi nilai-nilai THS-THM dan meneruskan semangat pelayanan kepada Gereja dan masyarakat.

“Pro Patria et Ecclesia”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *