PERKEMBANGAN AWAL KATOLIK DI WEDI

PERKEMBANGAN AWAL KATOLIK DI WEDI
Perkembangan iman Katolik di Wedi tidak lepas dari perkembangan iman Katolik di
Klaten Sejak tahun 1920, Gereja Klaten merupakan salah satu stasi dari Paroki Purbayan
(Surakarta). Pada waktu itu, sebagai wujud dari karya penggembalaan Stasi Klaten mendapat
kunjungan pastoral secara rutin setiap satu bulan sekali dari para pastor yang berkarya di
Paroki Purbayan. Dalam perjalanan waktu, tugas penggembalaan umat Katolik di Stasi
Klaten bukan hanya dilaksanakan oleh para pastor yang berkarya di Paroki Purbayan, tetapi
juga dibantu oleh pastor yang berasal dari Yogyakarta. Salah satu pastor dari Yogyakarta
yang membantu tugas penggembalaan umat di Stasi Klaten adalah Pastor H. Van Drieschen,
SJ.
Peristiwa iman yang terkait langsung dengan perkembangan iman Katolik di Wedi
adalah peristiwa pembaptisan seorang katekumen dari daerah Bayat oleh Pastor H. Van
Drieschen, SJ yaitu Elisabeth Ngadinah pada tanggal 7 Juli 1921. Elisabeth Ngadinah adalah
orang Katolik pertama di Paroki Wedi. Sejak saat itu, iman Katolik tumbuh di wilayah Wedi.
Dalam mewartakan iman Katolik di Wedi, Pastor H. Van Drieschen, SJ mendapat
bantuan dari beberapa orang, yaitu Wignyo Marwoto dan para guru Yayasan Pendidikan
Kanisius. Karya pastoral Pastor H Van Drieschen, SJ di Wedi akhirnya menghasilkan buah,
yaitu dengan dibaptisnya 9 orang dari daerah Wedi pada tanggal 22 November 1922.
STASI WEDI

STASI WEDI
Pada tahun 1923 Stasi Klaten resmi menjadi sebuah paroki, terpisah dari Paroki
Purbayan, dan gereja di Wedi berdiri menjadi sebuah stasi. Pastor Paroki Klaten yang
pertama adalah Pastor Lukas, SJ. Namun satu tahun kemudian tugas tersebut berakhir, dan
jabatan pastor kepala Paroki Klaten dijabat oleh Pastor Brensen, SJ. Upaya pengembangan
iman Katolik terus berlangsung dari waktu ke waktu.
Perkembangan iman Katolik di Stasi Wedi selain berkat karya penggembalaan yang
dilakukan oleh para pastor yang berkarya di Paroki Klaten, juga tidak dapat dilepaskan dari
peran para umat baptisan pertama dari daerah Wedi dan juga para guru Sekolah Kanisius
(sekarang dikenal dengan SD Kanisius Murukan). Pada tahun 1927, Bei Soetapanitro (guru
agama Sekolah Rakyat Kanisius Wedi), bersama dengan Tjokroatmojo (Kepala Sekolah
Rakyat Kanisius Wedi) dan dua orang baptisan pertama yaitu Karso Wiharjo
(Kardowihardjo) dan Wirowiharjo menyediakan diri membantu Pastor Brensen, SJ
memperluas “Keraton Dalem” di Wedi dan sekitarnya. Keempat tokoh itu dikenal sebagai 4
serangkai penyebar iman Katolik di Wedi. Karya pewartaan iman Katolik yang dilakukan
oleh empat orang tersebut bukan hanya di daerah Wedi saja tetapi juga di daerah lain di
sekitar Wedi, yaitu di daerah Bayat, Gantiwarno dan beberapa daerah di Gunung Kidul.
Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah umat Katolik di daerah Wedi semakin
bertambah. Salah satu bentuk pelayanan pastoral yang dilaksanakan oleh Pastor Paroki
Klaten bagi umat di daerah Wedi adalah pelaksanaan perayaan ekaristi setiap bulan. Karena
belum ada bangunan gereja di daerah Wedi, maka perayaan ekaristi dilaksanakan di Sekolah
Rakyat Kanisius Murukan.
Karena semakin banyaknya umat Katolik di daerah Wedi dan terbatasnya daya
tampung Sekolah Rakyat Kanisius Murukan Wedi untuk misa bulanan, maka muncul gagasan
untuk mendirikan gereja di Wedi. Pada tahun 1933, di bawah penggembalaan Rm. Brensen, SJ
dimulailah pembangunan sebuah gedung gereja di atas sebidang tanah yang dibeli, tepatnya
di Dukuh Tanjunganom, Gadungan, Wedi. Gedung Gereja Stasi Wedi tersebut memiliki
ukuran 18 meter x 52 meter dan merupakan gereja terbesar di Jawa Tengah kala itu.
Setelah bangunan gereja mendekati sempurna, pada tanggal 23 Februari 1935, Gereja
Wedi diberkati oleh Mgr. Petrus Johannes Willekens, SJ dengan mengambil nama pelindung
“Kanjeng Ibu Dalem Sang Kristus” sekarang lebih dikenal dengan “Santa Perawan Maria
Bunda Kristus”. Pastor pertama yang berkarya sebagai pastor vikaris adalah Pastor D.
Hardjosuwondo, SJ. Mulai saat itu, Perayaan Ekarsiti dilayani setiap hari di gereja. Sejak
tahun 1935, sebenarnya secara de facto stasi Wedi sudah dapat diperlakukan sebagai paroki
mandiri, namun penggembalaan imam masih berindukan di Paroki Klaten.
PAROKI WEDI

PAROKI WEDI
Setelah cukup lama menjadi bagian dari Paroki Maria Assumpta Klaten, tahun 1948
Stasi Wedi ditetapkan sebagai paroki mandiri dengan pastor paroki pertama yaitu Pastor
Tjokrowardoyo, Pr. Namun sayang, bukti otentik/legal formal pembentukan paroki Wedi
yaitu surat keputusan sebagai paroki mandiri tidak ditemukan/hilang.
Berdasarkan surat keputusan nomor: 1122/B/I/b-121/2021 tanggal 30 September
2021 tentang penetapan tanggal berdiri dan pesta nama Paroki Wedi yang dibuat oleh Uskup
Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, ditegaskan bahwa Gereja Katolik Santa
Perawan Maria Bunda Kristus Wedi resmi menjadi paroki mandiri pada tanggal 13 Juni 1956.
Sedangkan pesta nama Paroki Wedi dirayakan setiap tanggal 1 Januari pada Hari Raya Santa
Perawan Maria Bunda Allah.
Pertimbangan tanggal 13 Juni 1956, dijadikan sebagai tanggal berdiri Paroki Wedi
karena pada tanggal tersebut Paroki Wedi membentuk kepengurusan PGPM (Pengurus
Gereja dan Papa Miskin) di hadapan seorang notaris Raden Mas Soeprapto. Akta
pembentukan PGPM ini ditandatangani oleh Mgr. Albertus Soegijopranoto, SJ Vikaris
Apostolik Semarang, Stanislaus Danu Widjojo Pastor Paroki Wedi, dan Natanael
Tjokroatmodjo Kepala SD Kanisius Murukan Wedi.
Setelah berdiri menjadi paroki mandiri, guna semakin mendorong pertumbuhan iman
Katolik di Paroki Wedi maka pada bulan Juli 1949 Pastor Augustinus Tjakrawardaja, Pr
bersama sejumlah tokoh umat memutuskan untuk mengupayakan hadirnya sebuah komunitas
suster di Paroki Wedi. Upaya tersebut membuahkan hasil, pada tanggal 27 Maret 1951 datang
beberapa suster dari Kongregasi Abdi Kristus (AK) yang berpusat di Ungaran. Di Paroki
Wedi, para suster tersebut membuka karya pelayanan berupa sekolah taman kanak-kanak
(TK) dan klinik bersalin.
Pada tanggal 1 Januari 1976, pelayanan pewartaan iman Katolik di Paroki Wedi
diperkuat dengan hadirnya komunitas Bruder FIC, yang ditandai dengan berdirinya
komunitas bruder FIC. Bruder perintis Komunitas Wedi adalah Br. Otto Bruins FIC. Para
bruder berkarya di sekolah menengah pertama yaitu SMP Pangudi Luhur St. Aloysius Bayat,
SMP Pangudi Luhur St. Alfonsus Maria de Liguori Wedi, SMP Pangudi Luhur St. Yusup
Cawas, dan SMP Pangudi Luhur St. Pius X Gantiwarno.
Pada tanggal 15 Januari 1982, Dewan Paroki Wedi baru dibentuk dengan mengacu
pada Pedoman Dewan Paroki Keuskupan Agung Semarang. Perlu diketahui sebelumnya
bahwa pola penggembalaan Paroki Wedi pernah memasuki masa yang sangat unik. Paroki
dibangun dalam bentuk organisasi federasi, di mana masing-masing stasi seolah-olah menjadi
kelompok umat yang mandiri dan dari keempat pengurus dewan stasi tersebut menjadi
presidium di kepengurusan Dewan Paroki Wedi dalam satu periode.
Pada tahun 1984, pastor paroki Wedi dijabat oleh Pastor Subiyanto, Pr. Guna
mendukung tugas-tugas liturgis, khususnya tugas sebagai lektor maka dibentuk paguyuban
lektor Paroki Wedi. Anggota paguyuban secara bergilir mendapat tugas pada saat
pelaksanaan misa. Pada masa ini juga dibentuk Sekolah Minggu yang sangat memperhatikan
perkembangan iman kalangan anak-anak. Kegiatan sekolah minggu dilaksanakan pada saat
misa minggu pagi, dengan bertempat di garasi pasturan. Selain untuk membina iman anak
anak, kegiatan sekolah minggu juga bertujuan untuk menjaga keheningan saat misa. Dengan
ikut sekolah minggu maka anak-anak tidak bermain, berlari atau menangis ketika
pelaksanaan misa. Seiring perjalanan waktu, anak-anak diikutkan dalam perayaan Ekaristi
dengan masuk ke gereja bersamaan dengan persembahan. Pada masa ini, Pastor H.
Subiyanto, Pr mulai menggalakkan kunjungan dan misa di lingkungan. Sesi ini selalu
dipergunakan oleh pastor H. Subiyanto, Pr untuk mengajak umat ikut misa lingkungan dan
kalau ada umat lingkungan yang tidak hadir selalu ditanya apa alasannya tidak mengikuti
misa lingkungan.
Pada tahun 1988, tepatnya pada saat misa Natal tanggal 25 Desember 1988 muncul
tradisi baru dalam misa di gereja Paroki Wedi, yaitu pemberian berkat untuk anak-anak.
Setelah penerimaan komuni anak-anak mendapat berkat istimewa yaitu pemberkatan bathuk
atau yang biasa disebut komuni bathuk. Kebiasaan itu diteruskan hingga saat ini bahkan
berkembang pada Paroki – Paroki lain.
Pada tahun 1994 di setiap misa mingguan mulai ada kolekte ke-2 yang bertujuan
untuk perawatan/pemeliharaan gedung gereja. Kolekte kedua tersebut juga sering disebut
dengan kolekte pembangunan karena dana yang terkumpul dikhususkan untuk
pembangunan/perawatan gedung gereja.
Tahun 1997 istilah Sekolah Minggu diubah menjadi Pendampingan Iman Anak
(PIA). Pelaksanaan kegiatan sekoah minggu menjadi semakin sistematis dan terstruktur
karena menjadi bagian dari struktur dewan pastoral paroki, yaitu tim pelayanan
Pendampingan Iman Anak (PIA).
Tahun 1999 dinamika Paroki Wedi semakin lengkap dengan munculnya tradisi
kenduri yang sampai sekarang masih ada yaitu kenduri bersama masyarakat sekitar gereja
sebelum memasuki masa pekan suci. Pada tahun ini, juga menjadi masa keprihatinan bagi
paroki Wedi karena banyak pastor yang berkarya di paroki Wedi mengalami kecelakaan.
Akibat kecelakaan tersebut, pastor Saryanto, Pr mengalami luka tulang belakang dan pastor
Ag. Ariawan, Pr luka dibagian kepala dan harus operasi. Kedua romo tersebut harus opname
di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, tinggal Romo Y. Supriyanto, Pr yang harus
melayani umat baik di Wedi, Dalem, dan Bayat. Akhirnya setiap Sabtu dan Minggu Pastor
Supryanto mencari bantuan Romo dari Paroki lain.
Tahun 2001, guna membantu umat lansia yang tidak sanggup berziarah ke Gua Maria
Sendang Sriningsih, maka di sebelah timur-depan gereja dibangun Gua Maria. Tahun 2002
Stasi Gondang mulai dipersiapkan untuk menjadi paroki mandiri yang ditandai dengan
pembangunan sebuah gereja baru berupa joglo dan diberkati pada tanggal 30 November
Pada tanggal 01 Mei 2004 Stasi Gondang diresmikan menjadi paroki mandiri.
Bersamaan dengan berdirinya Paroki St. Yusuf Pekerja Gondangwinangun, Paroki Wedi
yang semula berbentuk federasi berubah menjadi paroki dalam arti yang sebenarnya.
Tahun 2004, Sekali lagi wajah Gereja Keuskupan Agung Semarang mengalami
perubahan dengan diumumkannya Pedoman Dasar Dewan Paroki yang baru oleh Mgr.
Ignatius Suharyo pada tanggal 30 Mei 2004. Bentuk dan struktur Dewan Paroki Wedi pun
ikut menyesuaikan diri. Pola penggembalaan mulai didasarkan pada PDDP 2004, yang
mengacu pada Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang yang tiap 5 tahun diperbarui. Pada
tahun ini pula, Paroki Wedi membuat sejarah baru, terkait dengan prodiakon. Sebelumnya
prodiakon hanya laki-laki, namun sejak tahun itu mulai ada prodiakones atau prodiakon
perempuan. Tahun itu ada 2 Prodiakones yaitu Ibu Pujiati dan Ibu Agnes Martini dan setelah
itu mulai banyak prodiakon perempuan.
Pada saat pastor paroki dijabat oleh pastor FX Sumantoro, Pr dimulai pembangunan
Gua Maria Watu Gedek (sekarang namanya Giri Wening) di Sengon Kerep dengan donatur
utama seorang umat dari Solo dan arsiteknya orang muslim. Semua biaya untuk
pembangunan taman doa tersebut, baik untuk upah tenaga dan bahan bangunan ditanggung
oleh donatur dari Solo tersebut (Bapak Mbun).
Pada saat terjadi gempa bumi tahun 2006 di wilayah Klaten yang menelan banyak
korban termasuk umat Paroki Wedi. Gereja Wedi pun membuka posko bantuan baik
makanan, obat-obatan, peralatan pertukangan, dan bantuan rumah sementara. Karina KAS
pun hadir untuk tanggap darurat dan pemulihan dari gempa. Beberapa waktu kemudian,
Romo FX Sumantoro, Pr pun merintis credit union (CU) dengan kantor di samping
Sekretariat Paroki (sekarang Ruang Bendahara). Sejak Tahun 2006 juga mulai diadakan
kolekte saat misa peringatan wajib Santo/Santa. Kolekte ini juga dipergunakan untuk
pendanaan program-program pembinaan iman umat.
Pada saat pastor paroki dijabat oleh pastor Y. Bambang Triantoro, Pr yaitu tahun
2011-2014 gedung gereja Wedi direhab hampir secara total. Untuk melestarikan bangunan
gereja yang semula tiang, pintu, jendela, balkon, plengkung Gereja dicat, lalu cat dikerok
supaya terlihat tekstur kayu jatinya. Untuk melindungi kayu dan mempercantik penampilan,
kayu-kayu itu pun diplitur. Romo Y. Bambang Triantoro, Pr sangat bersemangat mengajak
umat untuk setiap hari gotong royong bergantian dan saling memberi makan siang. Umat
terus diajak untuk berdonasi mengingat gereja tersebut adalah gereja umat Wedi.
Pada era pastor Bambang Triantoro pula dimulai pelayanan misa di Kapel Sengon
Kerep setiap Sabtu. Sebelumnya umat dari Sengon Kerep yang datang, turun, untuk misa di
gereja Wedi. Alasan pelayanan misa di Kapel Sengon Kerep adalah supaya umat Sengon
Kerep tidak menghabiskan BBM untuk perjalanan misa di Gereja Wedi. Lebih baik Romo
yang datang untuk melayani di Sengon Kerep.
Pada tanggal 15 Agustus 2012 Stasi Dalem ditetapkan sebagai kuasi paroki setelah
melalui masa persiapan yang cukup lama. Pada bulan Agustus 2014, kuasi Paroki Dalem
menjadi sebuah paroki, sedangkan Stasi Bayat menjadi paroki administratif.
Pada saat pastor paroki Wedi dijabat oleh pastor A. Maradiyo, Pr
diinisiasi pembangunan Balai Mandala Atas (diubah dan dijadikan dua lantai) dengan alasan kalau ada
rapat-rapat bersamaan semua tempat dapat dipakai. Arsiteknya dari umat sendiri (Bu
Handayani dan suaminya yang Muslim). Romo A. Maradiyo, Pr giat mencari donatur yang
kebanyakan dari relasinya. Gedung balai mandala baru diberkati oleh Mgr. Robertus
Rubiyatmoko pada tanggal 01 Januari 2018 dan difungsikan sebagai tempat pertemuan.
Selain dibangun gedung balai mandala atas, pada saat itu juga dibangun/rehab kamar mandi
depan yang berdampingan dengan TK Susteran, kamar mandi belakang bagian timur,
penggantian atap pastoran, tempat parkir sepeda sebelah timur Gereja, rumah genset, pagar
kebun barat gereja yang merupakan hibah dari Bapak P. Yatno dari Buntalan.
Pada masa ini pula dimulai program bedah rumah, Gerakan Bedah Rumah (GRB).
Romo merasa tidak dapat tidur dengan nyenyak ketika ada atap rumah umatnya yang bocor.
Pada masa ini pula dimulai pemberian bantuan beras kepada umat yang tidak mampu dan
sudah tua dengan alasan umat sudah tua untuk makan belum punya kepastian. Selain merehab
gedung gereja Wedi, pada masa-masa ini juga dilakukan renovasi Gereja Bayat dan membuat
Pastoran serta Aula untuk manjadi Paroki Mandiri.
Tahun 2018 , Paroki Wedi dipimpin oleh pastor A. G. Luhur Prihadi, Pr. Pada saat itu
Paroki Wedi mulai melaksanakan tradisi ekumene yaitu merayakan Ibadat Pekan Doa
Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani. Pada ibadat pertama, romo-romo serayon Klaten
datang, dan para pendeta dari berbagai denominasi turut dalam ibadat ekumene tersebut.
Selanjutnya pada tahun-tahun berikutnya ibadat diselenggarakan di gereja-gereja baik Kristen
atau Katolik secara bergiliran.
Pada masa ini, Paroki Wedi bisa membeli sawah seluas 1200 meter persegi di depan
Puskesmas Wedi dari Mas Hendro Losmen Srikandi untuk tempat parkir. Dananya sebagian
pinjam dari Keuskupan Agung Semarang yang diangsur setiap bulannya. Sawah yang dalam
kemudian diurug oleh para relawan dengan mencari tanah urug dari umat. Gereja tidak
mengeluarkan uang untuk beli urug. Setelah ditata dengan baik, dilanjutkan proses
pemagaran tempat parkir dengan dana dari paroki.
Tahun 2019, Paroki Administratif Bayat menjadi paroki mandiri sesuai dengan surat
Keputusan Bapak Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang Nomor 1655/B/I/b-12/19.
Setelah Paroki Administratif Bayat menjadi paroki mandiri. Pada tanggal 1 Januari 2019
paroki Wedi melakukan pemekaran lingkungan. Lingkungan yang sebelumnya berjumlah 34
menjadi 36 lingkungan. Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi terdiri dari 5 wilayah dan 36
lingkungan. Pada tahun ini, Paroki Wedi membangun Kapel Adorasi Ekaristi dengan nama
Sancta Maria Mater Sacratissimi Sacramenti (Santa Maria Bunda Sakramen Mahakudus).
Kapel ini diresmikan oleh Pastor A. G. Luhur Prihadi, Pr pada tanggal 3 April 2019.
Sejak tahun 2024 pastor paroki Paroki Wedi dijabat oleh pastor Basilius Edy
Wiyanto, Pr. Dalam masa ini, tata gembala di Paroki Wedi mendasarkan pada Arah Dasar
(ARDAS) Keuskupan Agung Semarang (KAS), dengan tema “Tinggal dalam Kristus dan
Berbuah”. Untuk mendukung implementasi ARDAS KAS VIII tersebut dibuat 5 garapan
prioritas seperti kekatolikan, kerasulan, kebangsaan, kerja sama dan sinergi, serta
profesionalitas. Pastor Edy masuk Paroki Wedi ketika Gereja menerjemahkan fokus garapan
itu dalam Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB). Namun formatio selama ini
masih berfokus hanya pada jenjang atau urutan: PIA, PIR, dan seterusnya. Muatan, materi,
dinamika, dan capaian di dalamnya belum tersentuh. Terinspirasi dari Rasul Paulus, Pastor
Edy menerjemahkan tentang formatio iman, bahwa iman bertumbuh ketika ada sukacita, ada
doa, dan ada kepedulian. Hal ini dirumuskan supaya mudah ditangkap dan diingat umat.
“Maka, mulai saya minta formatio iman itu ada sukacita, peduli, dan doa. Bagi saya, saya
sendiri mudah mengingat. Saya harapkan umat juga mudah,” katanya. Untuk mengukur
seseorang imannya bertumbuh atau tidak bisa dilihat, ia mengalami sukacita atau tidak, ia
rajin berdoa atau tidak, dan selain itu ia memiliki kepedulian atau tidak. “Ora gur sembayang
(Tidak hanya sembahyang). Di Yakobus, iman tanpa perbuatan hakikatnya mati. Berarti ada
peduli,” kata Romo Edy. Ini yang kemudian menjadi kerangka dan capaian kualitas
manusianya. (Selengkapnya)
STASI WEDI
Pada tahun 1923 Stasi Klaten resmi menjadi sebuah paroki, terpisah dari Paroki
Purbayan, dan gereja di Wedi berdiri menjadi sebuah stasi. Pastor Paroki Klaten yang
pertama adalah Pastor Lukas, SJ. Namun satu tahun kemudian tugas tersebut berakhir, dan
jabatan pastor kepala Paroki Klaten dijabat oleh Pastor Brensen, SJ. Upaya pengembangan
iman Katolik terus berlangsung dari waktu ke waktu.
Perkembangan iman Katolik di Stasi Wedi selain berkat karya penggembalaan yang
dilakukan oleh para pastor yang berkarya di Paroki Klaten, juga tidak dapat dilepaskan dari
peran para umat baptisan pertama dari daerah Wedi dan juga para guru Sekolah Kanisius
(sekarang dikenal dengan SD Kanisius Murukan). Pada tahun 1927, Bei Soetapanitro (guru
agama Sekolah Rakyat Kanisius Wedi), bersama dengan Tjokroatmojo (Kepala Sekolah
Rakyat Kanisius Wedi) dan dua orang baptisan pertama yaitu Karso Wiharjo
(Kardowihardjo) dan Wirowiharjo menyediakan diri membantu Pastor Brensen, SJ
memperluas “Keraton Dalem” di Wedi dan sekitarnya. Keempat tokoh itu dikenal sebagai 4
serangkai penyebar iman Katolik di Wedi. Karya pewartaan iman Katolik yang dilakukan
oleh empat orang tersebut bukan hanya di daerah Wedi saja tetapi juga di daerah lain di
sekitar Wedi, yaitu di daerah Bayat, Gantiwarno dan beberapa daerah di Gunung Kidul.
Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah umat Katolik di daerah Wedi semakin
bertambah. Salah satu bentuk pelayanan pastoral yang dilaksanakan oleh Pastor Paroki
Klaten bagi umat di daerah Wedi adalah pelaksanaan perayaan ekaristi setiap bulan. Karena
belum ada bangunan gereja di daerah Wedi, maka perayaan ekaristi dilaksanakan di Sekolah
Rakyat Kanisius Murukan.
Karena semakin banyaknya umat Katolik di daerah Wedi dan terbatasnya daya
tampung Sekolah Rakyat Kanisius Murukan Wedi untuk misa bulanan, maka muncul gagasan
untuk mendirikan gereja di Wedi. Pada tahun 1933, di bawah penggembalaan Rm. Brensen, SJ
dimulailah pembangunan sebuah gedung gereja di atas sebidang tanah yang dibeli, tepatnya
di Dukuh Tanjunganom, Gadungan, Wedi. Gedung Gereja Stasi Wedi tersebut memiliki
ukuran 18 meter x 52 meter dan merupakan gereja terbesar di Jawa Tengah kala itu.
Setelah bangunan gereja mendekati sempurna, pada tanggal 23 Februari 1935, Gereja
Wedi diberkati oleh Mgr. Petrus Johannes Willekens, SJ dengan mengambil nama pelindung
“Kanjeng Ibu Dalem Sang Kristus” sekarang lebih dikenal dengan “Santa Perawan Maria
Bunda Kristus”. Pastor pertama yang berkarya sebagai pastor vikaris adalah Pastor D.
Hardjosuwondo, SJ. Mulai saat itu, Perayaan Ekarsiti dilayani setiap hari di gereja. Sejak
tahun 1935, sebenarnya secara de facto stasi Wedi sudah dapat diperlakukan sebagai paroki
mandiri, namun penggembalaan imam masih berindukan di Paroki Klaten.
STASI WEDI



